Selasa, 04 November 2014

8 Tips Pencegahan Cybersex pada Remaja


Seperti yang telah kita bahas sebelumnya pada "Cybersex pada Remaja", jelas bahwa cybersex merupakan kegiatan yang berbahaya bagi anak, terutama bagi perkembangan psikologis mereka. 

Berikut merupakan 8 tips pencegahan cybersex pada remaja :  

1. Bangun kedekatan orang tua-anak melalui diskusi 
tentang aktivitas dunia maya.

2. Orang tua perlu belajar mengenai teknologi dan aktif mencari referensi mengenai berbagai bahaya cybersex terhadap perkembangan psikologis anak.

3. Mengarahkan aktivitas dunia maya anak kepada hal-hal yang positif 
dan penggunaan internet secara sehat. 

4. Berikan seks edukasi mengenai dampak psikologis penggunaan
internet yang tidak sehat

5. Ajarkan untuk menolak tegas ajakan cybersex dari siapapun 
yang ia temui di dunia maya.  


6.  Pantau dan tanya kegiatan anak di kamar, di warnet atau di tempat umum  tempat ia dapat dengan mudah mengakses internet.


7. Temukan perubahan prilaku anak sedini mungkin, contoh : terlalu asyik dengan internet, menyendiri,  tidak mau keluar kamar,  malas, emosional, agresif dan lain-lain. 
 
8.Segera bawa anak ke psikiater atau psikolog jika sudah ada 
gejala gangguan prilaku akibat cybersex.

"Semoga bermanfaat"
http://dr-suzyyusnadewi.blogspot.com/p/profile.html

Jumat, 31 Oktober 2014

Cybersex Pada Remaja


Pada suatu pagi, untuk pertama kalinya saya bertemu dan menangani seorang remaja dengan depresi berat yang juga disertai kecanduan cybersex. Tidak hanya itu, depresi tersebut juga mengarahkan pasien saya ini ke percobaan bunuh diri. Wah, sungguh mencengangkan ya.

Untuk remaja berumur 14 tahun ia terlihat begitu cerdas lho, hal itu tercermin dari tutur bahasa dan logika berpikirnya yang sebenarnya sangat baik. Sungguh miris rasanya mendengar seluruh ceritanya kemudian. HalSetelah ditelusuri lebih jauh, sangat disayangkan ternyata konflik yang dialami sebenarnya berasal dari konflik dengan kedua orangtuanya.

Menurutnya, ia dan orangtuanya selalu berbeda pendapat sehingga ia diperlakukan seperti bukan anak kandung sendiri. Melalui cerita yang dituturkan oleh pasien saya ini, terkuak pula sebab depresi yang dialaminya juga dikarenakan putus cinta dengan pasangan dunia maya yang ia miliki.

Pasangan dunia maya? hmm...saya pun merasa perlu mendengar lebih jauh untuk mengetahui apa sebenarnya maksud penuturannya itu.

Awalnya saya berpikir, jangan-jangan ia dan pasangan dunia maya itu sudah membawanya ke hubungan seksual secara nyata dan berkali-kali. Tapi ia tetap berikeras bahwa ia hanya berhubungan melalui video call saja, tidak lebih dari itu.

Pada akhirnya, ia kini merasa sangat menyesal karena telah berhubungan terlalu jauh dengan teman-temannya di dunia maya. Beberapa nama ia sebutkan dalam rasa sesal yang ia paparkan.

Wah...kini saya jadi bisa lebih membayangkan bagaimana sih sebenarnya aktivitas cybersex itu. Membuat saya sekaligus menjadi lebih yakin lagi atas bahaya yang dapat ditimbulkannya.

Dengan pertimbangan adanya gejala depresi dan usaha bunuh diri, saya memutuskan untuk merawat anak tersebut di rumah sakit, diharapkan penanganan ini juga dapat menghilangkan pikiran negatif tentang seks pada dirinya yang masih belia.

Pasien ini perlu dirawat untuk mendapatkan penanganan intensif karena selain membutuhkan konseling, pasien ini memerlukan obat - obatan (psikofarmaka) yang dibantu dengan terapi elektromagnetik neurofeedback. Hal ini bertujuan untuk mengurangi adiksi dan gejala depresi yang dideritanya. Kombinasi terapi dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan dan tentu harus berdasarkan persetujuan orangtua, mengingat pasien harus masuk sekolah lagi.

Tampaklah penyesalan kedua orangtuanya, mudah-mudahan dukungan keluarga dan keinginan dari pasien untuk sembuh akan mempercepat pemulihan mental anak tersebut .

Cybersex dan Dunia Remaja
Seperti yang kita ketahui, cybersex sebenarnya bukanlah hal yang baru. Dunia maya yang kini begitu dekat dengan generasi muda diam-diam menjadi salah satu gerbang akses terhadap aktivitas berbahaya ini.

Cybersex adalah melakukan seks secara online atau melakukan chat seputar seks. Biasanya anak yang mengalami kecanduan ini memiliki kontrol diri yang rendah dan emosionalnya  bermasalah. Dari pasien diatas jelas bahwa kontrol diri rendah dikarenakan  beban psikologisnya.

Bagi para orangtua, sebaiknya mulai menjaga buah hatinya akan bahaya ini. Beberapa hal yang dapat dilakukan misalnya :
  • Kenali emosi anak Anda
  • Sesekali periksa aktivitas dunia maya anak
  • Bangun kedekatan emosial dengan anak
  • Berikan sex education kepada anak

Oleh :
 http://dr-suzyyusnadewi.blogspot.com/p/profile.html



Kamis, 07 November 2013

Karena Kecanduan Game, Remaja Ini Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa Grogol

Jakarta, Dengan emosi yang masih labil, remaja rentan mengalami gangguan jiwa. Bukan hanya asmara, hobi bermain game juga bisa membuat jiwanya terganggu. Di Rumah Sakit Jiwa Grogol misalnya, sudah 4 remaja yang dirawat karena kecanduan game selama 2012.

Salah satunya kini masih dirawat di Instalasi Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Soeharto Heerdjan, atau yang lebih dikenal dengan nama RSJ Grogol karena terletak di kawasan Grogol, Jakarta Barat.

Remaja tersebut, sebut saja namanya Andi sebenarnya anak yang berprestasi di sekolahnya. Masalahnya hanya satu, remaja berusia 17 tahun ini tidak pernah bisa lepas dari permainan video games yang memang sudah menjadi kegemarannya sejak masih kecil.

Belakangan saking asyiknya memainkan video games, Andi mulai menarik diri dari pergaulan dan sering bolos sekolah. Orangtua yang merasa khawatir berusaha melarang, namun ketika video gamesnya diambil maka Andi mulai kehilangan kontrol lalu ngamuk-ngamuk.

"Pandangan matanya jadi hostile (memusuhi) kalau dilarang main video game. Tatapannya memusuhi," tutur dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K), Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Grogol saat ditemui dalam kunjungan media di tempat kerjanya, Jumat (5/10/2012).

Kecanduan games tidak bisa dianggap sepele, terutama kalau sudah mempengatuhi perilaku. Menurut dr Suzy, gangguan jiwa psikotis yang ditandai dengan cara berpikir yang mulai kacau bisa juga berawal dari kecanduan games yang tidak ditangani dengan baik.

Ditambahkan oleh dr Suzy, kasus Andi sudah termasuk gangguan jiwa psikotis karena sampai ngamuk-ngamuk kalau dilarang orangtuanya. itu berarti keinginannya untuk selalu bermain video games telah mengganggu perulaku dan membuatnya gelisah sepanjang waktu.

"Perlu treatment itu kalau sudah mengganggu fungsi sehari-hari, misalnya nggak mau sekolah. Nggak mau sekolah itu merupakan kedaruratan psikiatri utama pada anak dan remaja," tambah dr Suzy.

Treatment atau penanganan yang diberikan di RSJ Grogol antara lain mencakup terapi perilaku dan kalau diperlukan juga akan diberikan obat-obatan antipsikotik. Andi termasuk bagus dalam merespons terapi, sehingga dalam 3 minggu masa perawatan perilakunya sudah lebih terkontrol dan dalam waktu dekat bisa kembali ke rumah orangtuanya lagi.
 

Sumber :

Karena Kecanduan Game, Remaja Ini Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa Grogol

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jumat, 05/10/2012 15:01 WIB


Jeritan Anak di Rumah Sakit Jiwa Grogol: Aku Mau Sama Mama....

Jakarta, Bagi sebagian remaja, berada jauh dari orangtua rasanya sangat berat meskipun hanya untuk sementara. Apalagi jarak itu tercipta karena si remaja harus menginap di Rumah Sakit Jiwa. Wajar kalau terdengar jeritan, "Aku mau sama mama..”

Jeritan itu terdengar terus menerus dari mulut seorang remaja putri, sebut saja namanya namanya Anyelir. Duduk di sebuah kursi panjang di ruang rawat inap Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Soeharto Heerdjan, remaja berusia sekitar 13 tahun ini terus merengek ingin ketemu mamanya.

"Tadi pagi ibunya ada, tapi sekarang sudah pulang. Ini (Anyelir) memang baru saja masuk," jelas dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K), Kepala Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Grogol saat ditemui dalam kunjungan media di salah satu ruang perawatan, Jumat (5/10/2012).

Menurut dr Suzy, remaja ini sejak lama mengalami gangguan jiwa yang disebut afeksi bipolar. Selama ini, orangtuanya sering membawanya untuk berobat jalan di RSJ Soeharto Heerdjan atau yang dikenal dengan nama RSJ Grogol karena berlokasi di Grogol, Jakarta Barat.

Sejak awal memang sering gelisah dan kalau sudah demikian maka ia akan jadi banyak bicara meski tidak terlalu jelas apa yang dibicarakan. Gangguan ini muncul lagi dan agak memburuk ketika sedang mendalami seni musik di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB).
Ditegaskan oleh dr Suzy, Anyelir memiliki kemampuan kognitif yang normal seperti anak remaja kebanyakan. Kelebihan itu pula yang membedakan Anyelir dari anak-anak pengidap retardasi atau keterbelakangan mental sehingga selama ini tidak mengalami kesulitan dalam belajar.

Kondisi kejiwaan Anyelir sempat agak stabil setelah beberapa kali menjalani rawat jalan di RSJ Grogol. Namun saat salah seorang kerabatnya meninggal dunia belum lama ini, gangguan jiwa yang dialami Anyelir kembali memburuk dan akhirnya terpaksa dikirim orangtuanya untuk menjalani rawat inap.

"Agresif sih tidak, ya cuma seperti ini, ngomong terus. Di rumah dia sangat tergantung, apa-apa harus dibantu jadinya dikirim ke sini," tambah dr Suzy.

Menurut dr Suzy, gangguan afeksi bipolar antara lain ditandai dengan perilaku sebagai berikut:
1. sering sedih
2. bicaranya banyak
3. aktivitasnya tinggi
4. tidak bisa tidur

Perubahan lain yang juga sering teramati pada penderita afeksi bipolar adalah peningkatan libido. Entah ada hubungannya atau tidak, dr Suzy mengisahkan bahwa Anyelir memang menjadi agak salah tingkah waktu ada kunjungan siswa-siswa SMP yang sebagian pesertanya adalah cowok sebayanya.

Anyelir bukan satu-satunya remaja yang mengalami gangguan jiwa. Di RSJ Grogol, saat ini ada sedikitnya 6 pasien remaja yang menjalani rawat inap karena berbagai gangguan kejiwaaan mulai dari depresi berat, schizophrenia hingga kecanduan game.

Sementara itu di seluruh Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan bahwa 11,6 persen remaja usia 15 tahun ke bawah atau sekitar 19 juta remaja mengalami gangguan mental emosional berupa cemas dan depresi. Tahun 2020, depresi diproyeksikan sebagai penyebab utama disabilitas nomor 2 setelah penyakit jantung iskhemik.

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jumat, 05/10/2012 17:08 WIB