Tampilkan postingan dengan label gangguan kejiwaan.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gangguan kejiwaan.. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Januari 2019

SEMINAR NASIONAL & WORKSHOP

Seminar Nasional & Workshop Bersama Yayasan Pemerhati Dan Empati Kesehatan Jiwa "PUNTADEWA"

Tema :
" Pendekatan Antar Profesi dalam Penatalaksaan Gangguan Kesehatan Jiwa pada Anak dan Remaja"

Tanggal : Minggu, 27 Januari 2019
Tempat : Hotel Domici Purwokerto
Waktu : 07.30 - Selesai



Rabu, 21 Maret 2018

Senin, 02 Oktober 2017

PERBEDAAN PSIKIATER & PSIKOLOG

Dari Background Pendidikan

Psikiater : Tamat sekolah kedokteran minimal 6 Tahun, lalu lanjut ambil program spesialisasi Psikiatri selama minimal 4 tahun dan jika ingin mengambil subspesialisasi bidang anak & remaja maka harus kelanjutkan kembali pendidikan selama 2 tahun.


Psikolog : tamat Sarjana psikologi mininmal 4 Tahun. lalu lanjut ke profesi Psikologi selama minimal 2 tahun.
Bila Praktek, Seorang psikiater basicnya adalah dokter, sedangkan Psikolog basicnya adalah sarjana psikologi & bukan dokter.

Sabtu, 15 Juli 2017

Jadi Seleb Facebook, Pelarian Remaja Krisis Identitas

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Rabu, 24/10/2012 17:00 WIB


Jakarta, Tak perlu minder kalau teman di Facebook tidak sampai 500 atau cuma di-follow segelintir orang di Twitter. Sebab ada beberapa orang yang sukses dalam pertemanan di dunia maya, tetapi kesepian dan tidak bahagia karena gagal bergaul di dunia nyata.
Psikiater anak dan remaja dari RSJ Soeharto Heerdjan Grogol, dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K) mengakui di zaman sekarang ini banyak remaja mengalami krisis identitas. Masalah dalam pergaulan membuatnya merasa tidak percaya diri dan seperti tidak diterima. Jejaring sosial seperti Facebook dan sejenisnya pun jadi pelarian. Ketika menjadi seleb Facebook atau Twitter, ada kebanggaan tersendiri.
"Semacam fobia sosial, nggak berani berhadapan dengan dunia nyata," kata dr Suzy saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (24/10/2012).
Saat bergaul di dunia maya melalui jejaring sosial, para remaja yang mengalami krisis identitas memang memungkinkan untuk menjadi orang lain. Foto profil bisa diedit sedemikian rupa agar tampak setampan atau secantik mungkin. Begitu juga keterangan-keterangan lain yang tidak perlu harus sesuai kenyataan.
Menurut dr Suzy sangat khas pada remaja dengan krisis identitas adalah sering update status. Terlalu sering update status, mengubah keterangan dan mengganti foto profil seolah ingin selalu muncul di timeline adalah perilaku yang perlu diwaspadai sebagai gejala kecanduan social media.
Kecanduan atau adiksi biasanya ditandai dengan kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan pergaulan untuk melakukan hal yang disukai. Demikian juga dengan kecanduan social media, meski tetap bersosialisasi lewat internet tetapi kalau tidak bergaul di dunia nyata maka hal itu tidak bisa dibilang sehat.
Faktor pola asuh menurut dr Suzy turut mempengaruhi kecenderungan ini. Kurangnya kesempatan bagi remaja untuk mengembangkan diri, tekanan dari orang tua yang terlalu sering mengarahkan bisa membuat anak-anak tumbuh menjadi remaja yang selalu cemas dan tidak percaya diri.
Solusinya tidak sulit asal belum berlebihan, yakni dengan mengurangi intensitas bergaul di dunia maya dan mulai meningkatkan sosialisasi di kehidupan nyata. Begitu pula pencegahannya, pola asuh orang tua harus lebih memberi ruang bagi anak untuk berkembang secara sehat jasmani, rohani dan sosial.

Beda Tipis Antara Nyentrik dan Gangguan Jiwa

AN Uyung Pramudjarja – detikHelath

Rabu, 24/10/2012 18:02 WIB




Jakarta, Secara naluriah, tampil nyentrik di usia remaja adalah normal karena masih dalam masa pencarian jati diri. Hanya saja kalau berlebihan dan tidak pada tempatnya, tidak usah kaget kalau dikatakan dandanannya mirip seperti 'orang gila'.

Pemahaman yang simpang-siur tentang istilah 'gila' membuat para remaja berpenampilan eksentrik atau nyentrik jadi korban. Gila sering jadi istilah untuk menyebut penampilan atau perilaku tidak lazim, sementara pengidap gangguan jiwa skizofrenia juga disebut dengan istilah yang sama.
"Sebenarnya kalau eksentrik itu lebih ke skizotipal. Dekat dengan skizofrenia, tetapi ambangnya beda. Tidak semua jadi skizofrenia," kata dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K), psikiater anak dan remaja dari RSJ Soeharto Heerdjan saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (24/10/2012).
Menurut dr Suzy, sekedar tampil eksentrik dengan tato maupun gaya rambut yang aneh-aneh tidak perlu harus diartikan sebagai gangguan jiwa. Dalam masa pencarian jati diri, adalah hal yang wajar kalau para remaja suka bereksperimen termasuk soal penampilan.
Kecenderungan untuk menjadi skizofren atau 'gila' dalam pemahaman orang awam hanya muncul kalau memang remaja nyentrik tersebut punya faktor risiko. Misalnya semasa kecil sikapnya interovert atau tertutup, sering curiga atau paranoid dan mendapat pola pengasuhan yang salah dari orangtua.
Faktor genetik juga bisa ikut berperan, namun dr Suzy mengatakan pengaruhnya sangat kecil. Tidak ada data pasti, tetapi kalau diambil kasarnya maka kira-kira tidak akan lebih dari 10 persen dari semua faktor risiko yang ada termasuk pengaruh lingkungan dan pola asuh keluarga.
Mengenai anggapan bahwa ada banyak musisi dan seniman yang punya gangguan jiwa, dr Suzy tidak membantah meski juga tidak yakin bahwa hal itu ada hubungannya dengan penampilannya yang nyentrik. Hubungannya justru lebih dekat pada kreativitasnya yang tinggi.
"Gangguan bipolar itu kalau lagi sedih, sedih sekali dan kalau senang, senang sekali. Idenya banyak dan membutuhkan tidur yang lebih sedikit, makanya cenderung lebih kreatif," kata dr Suzy mengomentari gangguan bipolar yang kabarnya diderita juga oleh Kurt Cobain, vokalis Nirvana yang meninggal karena bunuh diri.

Rabu, 01 April 2015

Kesurupan


Kesurupan, merupakan berita yang populer di Indonesia, apalagi menjelang ujian akhir ini. Masyarakat menganggap kesurupan disebabkan karena adanya jin yang masuk kedalam tubuh orang.
Didalam ilmu kedokteran Jiwa (Psikiatri), kesurupan diartikan sebagai suatu reaksi Trans, yaitu hilangnya sementara penghayatan akan identitas diri& kesadaran terhadap lingkungannya. Orang yang mengalami rekasi Trans berperilaku seakan - akan dikuasai oleh kekuatan gaib, pribadi lain& kekuatan lain. seringkali disertai adanya gerakan, posisi tubuh & ungkapan kata-kata yang diulang-ulang
Kenapa kesurupan / gangguan Trans ini bisa muncul?
Kondisi psikologis orang yang mengalami kesurupan ini, biasanya dalam keadaan tertekan, karena harapan tidak sesuai kenyataan, ketakutan akan ancaman, takut kehilangan seseorang dll. Pada akhirnya menimbulkan kecemasan dan ketakutan.
Kondisi ini pada akhirnya menyebabkan hilangnya perhatian & kewaspadaan akan diri. Kondisi kesurupan pada seseorang bisa menginduksi terjadinya kesurupan pada orang lain disekitarnya, yang sama-sama mengalami masalah psikologis, misalnya sama-sama mengalami ketakutan/cemas akan ujian nasional, atau mempunyai masalah lain yang mempengaruhi kondisi mentalnya.
Saya dalam hal ini beragama Islam meyakini, bahwa hal ini bisa saja menyebabkan adanya kekuatan gaib yang masuk kedalam diri manusia dalam kondisi stres, karena dalam diri manusia kekuatan gaib/ jin memang selalu ada. Kondisi jiwa yang dalam keadaan kosong atau dalam keadaan depresi,cemas, ketakutan, panik, bisa saja menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran/ kewaspadaan akan dirinya sendiri sehingga dikuasai oleh makhluk lain/gaib yang tidak pernah mau meninggalkan manusia.
Oleh karena itu, pendekatan pada orang yang sering kesurupan atau kesurupan masal, lebih kepada pendekatan psikologis kepada individu tersebut. Beri penguatan positif, rubah pola pikir yang negatif, dan selalu tingkatan kewaspadaan / awareness akan diri, dengan banyak mendekatkan diri pada Penciptanya.
Pendekatan dengan Rukiyah dll bisa saja dilakukan untuk sementara, tapi yang paling penting adalah diberikan pendampingan psikologis dan beri kenyamanan pada individu tsb.
Pengalaman saya sebagai Psikiater bila mendapati orang dengan kesurupan adalah memberikan injeksi yang bekerja cepat, sampai tertidur. Setelah bangun, maka pada individu tersebut dilakukan pendekatan psikologis dengan pendekatan problem solving, psikoterapi & edukasi. Berdasarkan pengalaman, jarang yang kambuh lagi kesurupannya.
Saya menghimbau kepada sekolah, guru bimbingan konseling ataupun guru-guru bidang studi, hendaknya menyikapi hal ini secara serius. Jangan memberi tekanan kepada siswa yang memang sudah dalam kondisi tertekan dan ancaman takut tidak lulus dll, apalagi jika dibarengi dengan persoalan lain diluar sekolah, misalnya kondisi keluarga, ekonomi, dll.
Himbauan kepada para pembahas kurikulum, hendaknya kurikulum yang dibuat tidak hanya menekankan pada pelajaran yang membebani dan hanya menghapal yang tidak enak untuk diingat. Beri pengajaran yang baik dalam bentuk yang menyenangkan siswa.
Saya pribadi sampai saat ini tidak setuju dengan adanya ujian nasional, yang menghambat kreativitas siswa. Saya lebih menekankan pemerintah memberi bimbingan kepada sekolah/ guru dan lebih banyak menguji guru apakah sudah berkualitas sebagai pendidik, dibandingkan menguji siswa.