Tampilkan postingan dengan label Atensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 November 2018

TALENTA CENTER JAKARTA


Talenta Center Jakarta Adalah Terapi & Sekolah Anak Spesial suatu lembaga pendidikan khusus bagi penyandang autisme, hiperaktif, down syndrome dan anak kebutuhan khusus lainnya.

Alamat : 
Jl. Kebagusan Dalam IV No. 24 RT 06/04 Kel. Kebagusan Kec. Pasar Minggu Jakarta Selatan 
DKI Jakarta - 0857 - 1533 - 3061
 


 

Rabu, 16 Agustus 2017

Apa Yang di maksud IQ ?


IQ atau Intelegent Quotient adalah score/nilai yang menunjukkan tingkat kecerdasan seseorang berdasarkan perbandingan dengan sesamanya dalam satu populasi. Cara mengetahui tingkat IQ seseorang biasanya dilakukan melalui Psikotest yang terdiri dari berbagai metode.
IQ diklasifikasi berdasarkan metode test yang digunakan.

Stanford-Binet mengklasifikasikan nilai IQ normal yang berkisar diantara 85 – 115.
Lewis Terman mengklasifikasikan nilai IQ normal pada kisaran 90 – 109.
Wechsler mengklasifikasikan IQ normal pada angka 100 dengan nilai toleransi 15 (berarti 85 – 115).
Untuk klasifikasi umum, digunakan klasifikasi berdasarkan hasil kompromi ketiga metode diatas.
70 – 79 : Tingkat IQ rendah atau keterbelakangan mental
80 – 90 : Tingkat IQ rendah yang masih dalam kategori normal (Dull Normal)
91 – 110 :   Tingkat IQ normal atau rata-rata
111 – 120 : Tingkat IQ tinggi dalam kategori normal (Bright Normal)
120 – 130 : Tingkat IQ superior
131 : atau lebihTingkat IQ sangat superior atau jenius.





Kisaran rata-rata IQ manusia normal adalah 91~110, sebagai perbandingan dibawah ini ada daftar orang-orang yang memiliki tingkat kecerdasan diatas-rata, mungkin dapat membandingkannya dengan IQ anda.
  • Leonardo da Vinci Universal Genius,asal Italy, IQ 220
  • Johann Wolfgang von Goethe — Germany : 210
  • Kim Ung-Yong, ilmuwan fisika, Korea Selatan : 210
  • Gottfried Wilhelm von Leibniz — Germany: 205
  • Blaise Pascal Mathematician & religious philosopher France: 195
  • Garry Kasparov, pecatur Russia: 190
  • Sir Isaac Newton Scientist England: 190
  • Galileo Galilei Physicist & astronomer & philosopher Italy: 185
  • Buonarroti Michelangelo Artist, poet & architect Italy: 180
  • Johannes Kepler Mathematician, physicist & astronomer Germany: 175
  • Johann Strauss Composer Germany: 170
  • Martin Luther Theorist Germany: 170
  • Plato Philosopher Greece: 170
  • Ludwig van Beethoven Composer Germany: 165
  • Johann Sebastian Bach Composer Germany: 165
  • James Watt Physicist & technician Scotland: 165
  • Wolfgang Amadeus Mozart Composer Austria: 165
  • Bill Gates CEO, Microsoft USA: 160
  • Albert Einstein Physicist USA: 160
  • Paul Allen Microsoft cofounder: USA 160
  • Nicolaus Copernicus Astronomer Poland: 160
  • Benjamin Franklin Writer, scientist & politician USA: 160
  • James Cook Explorer England: 160
  • Stephen W. Hawking Physicist England: 160
  • Wolfgang Amadeus Mozart: 154
  • John Quincy Adams President USA: 153
  • Bonaparte Napoleon Emperor France: 145
  • Adolf Hitler Nazi leader Germany: 141
Secara umum tingkatan IQ manusia dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Idiot IQ (0-29)
Idiot dikelompok kedalam orang yang keterbelakangan mentalnya paling rendah. Orang seperti ini hanya mampu mengucapkan beberapa kata saja bahkan tidak dapat berbicara sekalipun. Biasanya tidak dapat mengurus dirinya sendiri seperti mandi, berpakaian, makan dan sebagainya, seumur hidupnya hanya tinggal ditempat tidur saja. Perkembangan intelegensinya dapat disamakan dengan anak normal 2 tahun

2. Imbecile IQ (30-40)
Level Imbecile setingkat lebih tinggi dari pada anak idiot. Ia hanya bisa belajar berbahasa dan bisa mengurus dirinya. Anak level ini dapat kita berikan pekerjaan-pekerjaan ringan, walaupun kesehariannya selalu bergantung, tetapi belum dapat mandiri. Kecerdasannya setara dengan anak normal berusia 3 sampai 7 tahun. Anak-anak imbecile tidak dapat dididik di sekolah biasa. 

3. Moron atau Debil IQ / Mentally retarted (50-69)
Ditingkat tertentu anak kelompok Debil IQ masih dapat belajar membaca, menulis, membuat perhitungan sederhana, mampu merencanakan dan memecahkan permasalahan. Banyak anak-anak debil ini mendapat pendidikan di sekolah-sekolah luar biasa.

4. Kelompok bodoh IQ dull/ bordeline (70-79)
Kelompok ini berada diatas kelompok terbelakang dan dibawah kelompok normal (sebagai batas). Orang tingkat ini sudah mampu bersekolah pada sekolah lanjutan walaupun akan mengalami kesulitan saat semester akhir.

5. Normal rendah (below avarage), IQ 80-89
Orang pada level ini memiliki daya nalar lambat dalam belajarnya tetapi dapat digolongkan kedalam kelompok rata-rata atau sedang pada tingkat bawah.

6. Normal sedang, IQ 90-109
Level ini merupkan kelompok normal atau rata-rata, orang ditingkat ini adalah kelompok terbesar presentasenya dalam populasi penduduk dunia.

7. Normal tinggi (above average) IQ 110-119
Kelompok ini merupakan kelompok orang yang normal tetapi berada pada tingkat daya nalar yang tinggi.
 
8. Cerdas (superior) ,IQ 120-129
Orang cerdas sangat berhasil dalam pekerjaan dan akademik. Orang seperti ini ditempatkan pada kelas-kelas biasa, ketua kelas biasanya dari golongan ini.

9. Sangat cerdas (very superior/ gifted) IQ 130-139

Orang very superior lebih cakap dalam membaca, memiliki daya ingat yang baik dalam bilangan, perbendaharaan kata yang luas, lebih cepat memahami pengertian yang abstrak. Pada umumnya, faktor kesehatan, ketangkasan, dan kekuatan lebih menonjol dibandingkan anak normal.

10. Genius IQ 140>
Orang seperti ini memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dan mampu menemukan sesuatu yang baru meskipun dia tidak bersekolah. Kelompok ini berada pada seluruh ras dan bangsa, dalam semua tingkat ekonomi baik laki-laki maupun perempuan. Contoh orang-orang genius ini adalah Edison dan Einstein.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas intelegensi atau kecerdasan yang tinggi dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan individu dalam belajar dan meraih kesuksesan.
Namun baru-baru ini telah berkembang pandangan lain yang menyatakan bahwa faktor yang paling dominan yang mempengaruhi keberhasilan individu dalam hidupnya bukan semata-mata ditentukan oleh tingginya kecerdasan intelektual, tapi oleh faktor kemantapan emosional (Daniel Goleman disebut Emotional Intelegence). Ia mengemukakan orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena kecerdasan intelektualnya rendah, namun mereka kurang memiliki kecerdasan emosional mekipun intelegensinya berada pada tingkatan rata-rata. Tidak sedikit orang yang sukses dalamnya hidupnya karena memilki kecerdasan emosional.
Kecerdasan emosional ini semakin perlu di pahami, dimilki dan diperhatikan dalam pengembangannya karena mengingat kehidupan dewasa ini semakin kompleks. Kehidupan yang sangat kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk terhadap konstelasi kehidupan emosional individu. Dalam hal ini Daniel Goleman mengemukakan hasil survei terhadap para orang tua dan guru yang hasilnya bahwa ada kecenderungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya, mereka lebih kesepian dan pemurung, lebih bringasan dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif.
Persentase IQ manusia berdasarkan jumlah populasi penduduk dunia
  • 130+ :  Sangat superior sekitar 2.2%
  • 120 -129 : Superior sekitar 6.7%
  • 110 -119 : Rata-rata plus sekitar16.1%
  • 90 -109 : Rata-rata sekitar 50%
  • 80 – 89 : Rata-rata minus sekitar 16.1%
  • 70 – 79 : Garis batas sekitar 6.7%
  • Below 70 : Sangat rendah 2.2%

Senin, 26 Januari 2015

Bagaimana Mendeteksi ADHD pada Anak Anda? (Bagian 2)

Apakah anda sudah membaca "Bagaimana Mendeteksi ADHD pada Anak Anda? (Bagian 1)" pada postingan sebelumnya? 

Berikut ini kita akan membahas gejala ADHD pada remaja.Kebanyakan orangtua merasa anaknya hanya nakal, tidak nurut, tidak bisa diatur. Jika orangtua/ pendidik memahami masalah remaja sebenarnya,  mereka tentu tidak akan melabel anaknya " bermasalah".

Gejala ADHD pada remaja
Pada   remaja   dengan  ADHD,   beberapa gejala  ini bisa kita lihat dan  pantau  langsung. Berikut ini adalah gejala-gejalanya:

  • Membuat     kesalahan     dalam     mengeja berlanjut hingga dewasa

Dalam    beberapa   kasus,    anak    ADHD yang sudah menginjak remaja memiliki kekurangan dalam mengeja sebuah kata. Mereka    sering    mengulang    kesalahan yang sama ketika mengeja  kata-kata yang menurut  mereka sulit untuk dibaca
  • Sering  menghindar dari  tugas  membaca dan menulis

Remaja ADHD biasanya akan menghindari tugas membaca atau menulis. Mereka akan sulit membaca dengan baik, pada beberapa bagian bacaan, mereka seringkali membaca tanpa   jeda   titik  maupun  koma.  Begitu juga dengan menulis, dalam beberapa tulisan, remaja ADHD seringkali tidak bisa menempatkan tanda  baca dengan baik. Sehingga tidak terlihat jelas apa yang dimaksud dari tulisan yang dibuatnya.
  • Kesulitan dalam menyimpulkan suatu bacaan

Dalam struktur kalimat yang kompleks dengan jumlah tanda  baca cukup banyak, remaja   ADHD biasanya   akan   kesulitan untuk menyimpulkan  apa yang dibacanya. Mereka hanya bisa membaca dengan datar tanpa ekspresi, bahkan cenderung tidak memperhatikan titik dan koma.

·      Kesulitan menjawab suatu pertanyaan yang membutuhkan penjelasan  lisan dan/ atau tulisan
Pertanyaan   yang  bersifat  kompleks membuat remaja dengan gangguan ADHD sulit memahami apa  yang  kita tanyakan. Dalam beberapa kasus anak ADHD bahkan cenderung untuk  tidak  mengekspresikan perasaannya ketika ditanya.  Mereka men- jawab  dengan datar  dan/atau menjawab sesuai dengan daya pikir mereka saja.

·         Kesulitan dalam menyerap  konsep yang abstrak
Jangan pernah coba memberikan konsep penjelasan  yang membuat anak ADHD berpikir keras mencari maksud dan tujuannya. Begitu juga ketika mereka diberitahu, kita tidak bisa menggunakan kata-kata sindirian agar mereka berubah. Mereka butuh  penjelasan  yang detail dari setiap arahan yang kita mau.

·         Bekerja lamban
Pada  remaja  ADHD pergerakan  motorik mereka akan terkesan lamban. Hiperaktif bukan membuat pekerjaan mereka menjadi lebih cepat, dalam beberapa kasus mereka akan sangat  lamban  dalam menyelesaikan pekerjaannya. Misalnya ketika mereka harus membersihkan lantai, pekerjaan mereka akan sangat lamban bila dibandingkan dengan mereka yang normal.

·     Bisa kurang  perhatian pada  hal-hal  yang rinci atau bisa juga terlalu fokus kepada hal- hal yang rinci
Misalnya ketika main game  merekfokus dan  menang  terus,  namun   bila  mereka harus menyelesaikan pekerjaan rumah, mereka tidak fokus.

·         Bisa salah dalam membaca informasi
Dalam beberapa kasus, remaja dengan ADHD akan sangat  sulit membaca maksud dari informasi yang didapat. Mereka memiliki kesulitan dalam menganalisa kejadian  di  sekitar  mereka  sehingga persepsi  merekterhadap informasi yang diterima seringkali salah.

Inilah gejala-gejala ADHD pada remaja, apakah  anak anda  termasuk di  dalamnya? Bila ya, maka mungkin sudah saatnya anda berkonsultasi pada professional di bidangnya seperti  psikiater anak atau  psikolog anak.





Rabu, 07 Januari 2015

Bagaimana Mendeteksi ADHD pada Anak Anda? (Bagian 1)



Pada salah satu sesi konsultasi, saya bertemu dengan seorang anak usia 6 tahun yang dibawa oleh kedua orangtuanya untuk berkonsultasi atas rujukan dari sekolah. Menurut keterangan sekolah, anak ini tidak bisa mengikuti pembelajaran di kelas selama masa observasi persiapan masuk sekolah berlangsung. Namun, menurut orangtuanya sang anak tidak bermasalah, hanya sekedar tidak bisa duduk tenang dan gaya belajarnya auditorik. Ayah merasa anaknya hanya terlambat bicara seperti saudaranya yang lain.



Orangtua pun kemudian bercerita tentang adanya riwayat keluarga yang kebanyakan terlambat bicara semenjak kecil. Keterlambatan bicara tersebut salah satunya terjadi pada adik dari pihak ayah, namun menurut mereka toh pada akhirnya bisa menjadi orang sukses. Dari cerita itulah orangtua merasa bahwa anaknya sedang mengalami hal yang sama dengan pamannya, mereka tetap menyangkal bahwa anaknya kini sebenarnya bermasalah.



Pada saat observasi, tampak anak bolak-balik memanjat sofa dan meja, kemudian saat dilarang oleh orangtuanya sang anak pun terdiam sejenak, tapi setelah itu kembali seperti semula.



Pada sesi konsultasi yang sama, saya pun kemudian mencoba memaparkan penjelasan mengenai beberapa gejala ADHD secara lebih rinci. Setelah menyimaknya secara seksama, barulah orangtua mulai berpikir dan merasa anaknya berbeda dengan anak lain dan bukan sekedar karena cara belajar yang berbeda.



Berdasarkan kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa anak mengalami gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Diorder) yang tidak disadari oleh orangtuanya. Perlu kesadaran orangtua untuk mengenali gejala ADHD sejak dini, karena jika tidak akan berdampak serius dalam prestasi belajar dan akademik, juga di dalam berkembangnya perilaku destruktif. ADHD dapat berkembang menjadi remaja/dewasa dengan ADHD menetap yang akan menganggu fungsi sosial dan pekerjaannya. Berdasarkan data, 20%-40% anak ADHD ketika remaja dapat berkembang menjadi gangguan tingkah laku (conduct disorder) dan 10%-20% menjadi gangguan kepribadian anti-sosial (personality disorder)/psikopat. 



Lalu bagaimana cara mengenali ADHD? di bawah ini dipaparkan gejala ADHD secara umum yang dapat menjadi referensi orangtua untuk segera merujuk ke profesional jika mendapati anaknya memiliki gejala berikut :
  • Anak sulit sekali belajar
Anak dengan ADHD memang sulit  sekali  belajar.  Mereka  tidak  pernah bisa fokus menyelesaikan  pekerjaan. Seringkali anak ADHD meninggalkan pekerjaan  yang seharusnya menjadi    tanggungjawabnya.   Pada   satu titik anak ADHD bisa saja tantrum karena tidak  bisa mengendalikan amarah  karena diminta menyelesaikan tugas yang tidak pernah bisa diselesaikannya.
  • Anak tidak pernah fokus
Anak  ADHD sulit   sekali  menyelesaikan pekerjaan  hingga  tuntas. Tidak hanya pada pelajaran, pada permasalahan yang datang di  hadapannya sulit  diselesaikan dengan baik. Seringkali kurang  fokus anak  ADHD membuat orangtua menyerah dan bingung untuk memberitahu mereka.
  • Anak sulit mendengarkan bila diajak bicara
Kecenderungan anak ADHD tidak mendengarkan ketika diajak bicara. Mereka seakan cuek dengan lingkungan sekitar. Gejala ini sebenarnya mirip dengan gejala autisme yang ringan, hanya saja pada autisme tidak terjalin kontak mata dan komunikasi verbal dan non-verbal.

  • Perhatian mudah terpecah bila ada gangguan dari luar
Pernahkah anda melihat anak anda yang sedang menyiapkan diri untuk mengerjakan PR tiba-tiba saja pergi meninggalkan tugasnya ketika tahu ada teman atau kartun kesukaannya diputar? Yah, pada anak ADHD kecenderungan untuk meninggalkan pekerjaan seringkali terjadi. Mereka tidak akan pernah punya beban ketika pekerjaan rumah mereka tidak selesai. Karena sikap inilah terkadang orangtua dibuat kesal dengan perilaku anak ADHD.
  •  Kehilangan benda-benda dan alat tulisnya

Anak ADHD seringkali lupa menaruh barang. Seorang murid di klinik kami seringkali lupa menaruh barang miliknya. Beberapa barang bahkan tertinggal di sekolah atau di rumah. Seringkali orangtua bingung dan memarahi anak karena ia mereka tidak mendengarkan orang lain bicara karena fokus pada yang dipikirkan.

  • Tidak paham dengan instruksi

Pada  situasi  tertentu,  anak  ADHD akan sulit memahami instruksi yang  orangtua/ guru  berikan.   Mereka   akan   cenderung sulit menganalisa  apa yang diinginkan dari sebuah instruksi kompleks. Misalnya ketika terapis memberikan instruksi   pada   anak   untuk   mengambil buku, membuka  buku kemudian membaca halaman pada buku. Pada anak ADHD biasanya tidak bisa langsung mengerti dengan instruksi tersebut.
  • Terlalu aktif dalam bergerak

Anak ADHD memiliki kecendrungan terus bergerak.  Mereka  seperti   tidak  memiliki rem untuk mengatur gerak tubuhnya. Seperti saat bermain anak ADHD bisa tiba- tiba saja melakukan  gerakan  yang sangat cepat dan terus menerus, sehingga  teman- temannya  seringkali bingung  bagaimana cara menghadapinya.

Beberapa temannya  bahkan  menjauhinya karena  mereka  menganggap anak  ADHD ini tidak mengerti aturan main. Misal: Ketika anak-anak  bermain  bola, anak ADHD bisa saja bermain dengan mereka, berusaha menendang bola  ke  gawang.  Sayangnya dia tidak bisa berhenti  ketika ia melakukan pelanggaran  seperti   mendorong atau keluar dari garis lapangan.
  • Sulit menunggu giliran    

Tidak mudah membuat anak menunggu giliran. Karena aktif dalam melakukan kegiatan, anak ADHD cenderung mudah bosan. Pada level tertentu anak ADHD bahkan   menjadi   cemas  ketika gilirannya tidak ditunaikan.

Salah satu contoh ketika mereka harus menyelesaikan tugas khusus di sekolah sementara anak-anak  lain pulang  sekolah. Pada   situasi  ini  anak   ADHD terkadang cemas  dan  sulit  sekali untuk  tidak  pergi meninggalkan  ruang  kelas.  Bila dicegah, anak ADHD bahkan bisa menjadi tantrum.

  • Terlalu cepat menjawab pertanyaan walaupun pertanyaan yang diajukan belum selesai

Pada   situasi   tertentu  anak   ADHD bisa menjawab    pertanyaan   dengan   sangat cepat meski kita belum menyelesaikan pertanyaan. Hanya saja  pertanyaan yang dijawab terkadang bukanlah jawaban yang benar-benar tepat.

Misalnya ketika anak bertanya  tentang apa saja yang sudah dipelajari di sekolah. Anak ADHD akan  dengan cepat  memberitahu tentang  apa   yang   sudah   dipelajari   di sekolah, tapi ketika ditanya tentang bagaimana pelajaran  di kelas dan  belajar apa  saja, anak ADHD biasanya  cenderung hanya menjelaskan  kulit luarnya saja, tidak bisa menjelaskan secara terperinci pelajaran di kelas dan maksud belajar di kelas.

  • Mengganggu orang lain.

Anak ADHD dalam  situasi  tertentu akan sangat  mengganggu orang  di sekitarnya. Kadang kejahilan mereka tidak pada tempatnya. Jika diberitahu  dan dijelaskan, mereka  tidak  akan  pernah  mengerti  dan terus mengulangi hal yang sama.

Inilah gejala-gejala   umum   yang   terjadi pada anak ADHD, apakah anak anda  termasuk di  dalamnya? Bila ya, maka mungkin sudah saatnya anda berkonsultasi pada professional di bidangnya  seperti  psikiater anak atau  psikolog anak. 

Untuk mengetahui gejala ADHD pada remaja, simak "Bagaimana Mendeteksi ADHD pada Anak Anda? (Bagian 2") pada postingan selanjutnya. 


Sumber referensi :
  • "Strategi & Metode Belajar untuk Anak ADHD" by Dr. Suzy Yusna Dewi, dr., SpKJ(K)
  • "Fact Sheet: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) Topics", adapted from R. A. Barkley & K. R. Murphy (2006) Attention deficit hyperactivity disorder: A clinical workbook (3rd ed.)
  • "ADHD and Conduct Disorder" by Eileen Bailey

Catatan :
Jika ingin melakukan pemesanan buku "Strategi & Metode Belajar untuk Anak ADHD", silahkan hubungi & membeli langsung di Talenta Center