Tampilkan postingan dengan label anak berkebututhan khusus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak berkebututhan khusus. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 Maret 2019
Minggu, 09 Desember 2018
URBANVENTURITY 1.0
Salurkan donasi anda...
Urbanventurity....
📍Kampung Kancana, Desa Santosa, Kab Bandung
Kamis, 03 Mei 2018
JADWAL PRAKTEK PSIKIATER ANAK & REMAJA DI BEKASI
Berlokasi Di Klinik Talenta Center :
Ruko Sentral Niaga Kalimalang
Jl. Jend. A. Yani No. 1 Blok B6-7
Kayuringin Jaya - Kota Bekasi
021-88856183 /0877-8820-9933
Kayuringin Jaya - Kota Bekasi
021-88856183 /0877-8820-9933
TOPIK :
ABK,
adhd center,
anak berkebututhan khusus,
AUTIS,
autisme.,
Awareness Autisme,
Bullying,
cemas,
gangguan belajar spesifik,
gangguan bipolar,
Gejala ADHD,
psikologis anak,
psyhological
Jumat, 27 April 2018
ISLAMIC GREEN SCHOOL
INFORMATION SCHOOL :
TK-SD-SM-Tahfidz 📍Jl. Cipete Raya No. 113 Kec.
Mustikasari Kel. Mustika Jaya Kota Bekasi ☎ 021-29081546 📞085100954085 Facebook : IGS
Bina Talenta
Senin, 23 April 2018
ISLAMIC GREEN SCHOOL - Selamat UNBK SMP Anak- anakku InshaAllah sukses ya
INFORMATION SCHOOL :
TK-SD-SM-Tahfidz 📍Jl. Cipete Raya No. 113 Kec.
Mustikasari Kel. Mustika Jaya Kota Bekasi ☎ 021-29081546 📞085100954085 Facebook : IGS
Bina Talenta
Rabu, 11 April 2018
APA ITU DYSLEXIA (Kesulitan Membaca) ?
Menurut DSM-IV, disleksia
didefinisikan sebagai pencapaian membaca di bawah tingkat yang diharapkan untuk
usia, pendidikan, dan intelegensia anak; hendaya ini secara signifikan
menganggu keberhasilan akademik atau aktivitas harian yang melibatkan membaca.
Gangguan ini ditandai dengan gangguan kemampuan mengenali kata, membaca dengan
lambat dan tidak akurat, serta pemahaman yang buruk. Di samping itu, anak
dengan gangguan defisit atensi/hiperaktivitas (ADHD) memiliki risiko tinggi
gangguan membaca.4
Epidemiologi
Suatu perkiraan sebesar 4% anak usia sekolah di
Amerika Serikat memiliki gangguan membaca; studi prevalensi menemukan angka
yang berkisar antara 2 dan 8%. Anak laki-laki tiga hingga empat kali lebih
banyak dibandingkan dengan anak perempuan dilaporkan memiliki ketidakmampuan
membaca pada sampel yang dirujuk secara klinis. Studi epidemiologis yang teliti
menemukan angka yang hampir sama antara anak laki-laki dan perempuan yang
memiliki gangguan membaca. Anak laki-laki dengan gangguan membaca mungkin lebih
sering dirujuk untuk evaluasi dibandingkan anak perempuan karena masalah
perilaku yang sering terkait.4
Komorbiditas
Anak dengan kesulitan membaca memiliki risiko yang
lebih tinggi dari rata-rata untuk mengalami juga masalah perhatian, gangguan
perilaku yang menganggu (contoh gangguan tingkah laku), dan gangguan depresif,
terutama pada anak yang lebih tua serta remaja. Data mengesankan bahwa hingga
25% anak dengan gangguan membaca juga memiliki ADHD. Studi keluarga menunjukkan
bahwa mungkin terdapat beberapa faktor genetik yang sama yang menyebabkan
gangguan membaca dan sindrom yang terkait dengan perhatian. Anak dengan
gangguan membaca memiliki angka depresi yang lebih tinggi dari rata-rata pada
laporan diri sendiri dan mengalami tingkat gejala ansietas yang lebih tinggi
dibandingkan anak tanpa gangguan belajar.4
Etiologi
Tidak ada satu etiologi tunggal pun yang
diidentifikasikan sebagai penyebab kesulitan membaca; faktor genetik, faktor
perkembangan, dan faktor lingkungan dapat turut berperan terhadap defisit inti
gangguan membaca.4
Banyak studi menyokong hipotesis bahwa faktor
genetik memainkan peran utama pada adanya gangguan membaca. Studi menunjukkan
bahwa 35-40% kerabat derajat pertama anak dengan gangguan membaca juga memiliki
derajat tertentu hendaya bahasa.4
Insiden gangguan membaca yang lebih tinggi dari
rata-rata terdapat pada anak dengan intelegensi normal yang mengalami palsi
serebral. Insiden gangguan membaca yang sedikit meningkat terdapat di antara
anak-anak yang mengalami epilepsi. Komplikasi selama kehamilan: kesulitan
prenatal dan perinatal termasuk prematuritas, dan berat lahir rendah lazim ada
di dalam riwayat anak dengan gangguan membaca.4
Gambaran Klinis
Anak yang
mengalami gangguan membaca biasanya dapat diidentifikasi pada usia 7 tahun
(kelas 2). Kesulitan membaca dapat tampak jelas pada anak di dalam kelas saat
keterampilan membaca diharapkan diperoleh pada kelas 1. Masalah-masalah yang
terkait mencakup kesulitan berbahasa, sering ditunjukkan dengan gangguan
diskriminasi bunyi dan kesulitan merangkai kata-kata yang sesuai. Sebagian
besar anak dengan gangguan membaca tidak menyukai dan menghindari membaca serta
menulis.
Kesulitan untuk
memaknai simbol, huruf, dan angka melalui persepsi visual dan auditoris. Hal
ini akan berdampak pada kemampuan membaca pemahaman. Adapun bentuk-bentuk
kesulitan membaca di antaranya berupa3:
-
Penambahan (Addition)
Menambahkan
huruf pada suku kata
Contoh:
suruh à disuruh;
gula à gulka; buku à
bukuku
-
Penghilangan (Omission)
Menghilangkan
huruf pada suku kata
Contoh:
kelapa à lapa; kompor à kopor; kelas à
kela
-
Pembalikan kiri-kanan (Inversion)
Membalikkan
bentuk huruf, kata, ataupun angka dengan arah terbalik kiri-kanan.
Contoh:
buku à duku; palu à
lupa; 3 à m
-
Pembalikan atas-bawah (ReversalI)
Membalikkan
bentuk huruf, kata, ataupun angka dengan arah terbalik atas-bawah.
Contoh:
m à w; u à
n; nana à uaua; mama à
wawa; 2 à 5; 6 à
9
-
Penggantian (Substitusi)
Mengganti
huruf atau angka.
Contoh:
mega à meja;
nanas à mamas; 3 à
8
DAFTAR
PUSTAKA
Hallhan,
D.F. , : Kauffman, J.M. ; & Lloyd, J.W. , ( 1985 ) Introduction
to Learning Disabilitis, New Jersey : Prentice-Hall Inc
Harwell, Joan M. 2000. Information & Materials
for LD, New York: The Center of Applied Research in Education.
Kirk,
S.A, & Gallagher, J.J. (1986). Educating Exceptional Children 5th
ed. Boston: Houghton Mifflin Company.
Benjamin
J. Sadock, Virginia A. Sadock. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Kaplan & Sadock.
Edisi 2.
Muhammada, Jamila. 2007. Special education for
special children. Alih Bahasa: Edy Sembodo. Jakarta : Hikmah
Yulinda E. S. Kesulitan Belajar. Magistra No.73 Th
XXII September 2010
Jumat, 02 Maret 2018
SOFT LAUNCHING 2018
TALENTA CENTER BANDUNG 04 MARET 2018
Metro MTC Blok c7 Jl. Soekarno Hatta
Bandung Timur, Jawa Barat
Telp : (022) 87311658
Rabu, 21 Februari 2018
Kamis, 12 Oktober 2017
Rabu, 09 Agustus 2017
Pengenalan ADHD
ADHD atau Attention Deficit
Hyperactivity Disorder adalah gangguan perilaku yang ditandai dengan gejala
inatensi, inpulsif dan hiperaktifitas. ADHD pertama kali diteliti oleh Heinrich
Hoffman pada tahun 1863. Hoffman mendeskripsikan gangguan prilaku sebagai
berikut: “Sebagai anak yang selalu bergerak, tidak pernah berhenti walaupun
telah ditegur oleh ayah dan ibunya; seolah-olah dia tidak mendengar nasehat
orangtuanya. Anggota tubuhnya tidak pernah diam, berputar kesana kemari,
naik-turun kursi dan meja, tidak ada hentinya dan tidak mempedulikan
sekitarnya, sehingga orangtuanya tidak dapat menahan diri lagi melihat keadaan
anaknya seperti itu.” Hoffman memberi julukan, Fidgety Phil (Phil yang tidak bisa diam).
Pada periode 1960-1970, Chess memberikan definisi hiperaktivitas: Anak
yang hiperaktif adalah anak yang menunjukkan aktivitas berlebihan, lebih tinggi
dari kecepatan normal pada anak umumnya atau anak yang selalu dalam keadaan
bergerak atau keduanya.
Pada tahun 1968 secara resmi definisi hiperaktivitas dicantumkan dalam
nomenklatur Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders edisi II sebagai hyperkinetic reaction of childhood disorder.
Pengertian DSM II sejalan dengan pandangan Chess: “Gangguan ini memiliki
karakteristik aktivitas berlebihan, tidak bisa diam, perhatiannya mudah beralih
dan rentang
perhatian pendek, terutama didapatkan pada anak usia dini, perilaku
tersebut berkurang pada saat usia remaja.”
Di kurun waktu 1970-1980 pada periode ini terdapat 2000 laporan ilmiah
mengenai gangguan hiperaktivitas pada anak. Douglas menyimpulkan hiperaktivitas
dijelaskan dengan empat defisit utama:
1.
Pemusatan (investment), penataan (organization),
pemeliharaan (maintanance), perhatian
dan usaha (effort);
2.
Hambatan (inhibitation)
terhadap respons impulsif;
3.
Pengaturan gairah (arousal) untuk memenuhi tuntutan situasi;
4.
Dorongan kuat mencari kepuasan segera yang tidak
biasa.
Hal ini yang mempengaruhi pada DSM III, nama gangguan tersebut diganti
menjadi gangguan perhatian (Attention
Deficit Disorder (ADD), American Psychiatric Association, 1980).
Di kurun waktu 1980-1990, tepatnya tahun 1987 pendefinisian ADD berubah
menjadi Attention Deficit Hyperactivity (ADHD).
DSM III pun disempurnakan menjadi DSM III-R
dengan perbedaan diagnosis sebagai berikut:
1.
Kelompok gejala dan cutoff scores yang tunggal diganti
menjadi tiga kelompok gejala dan cutoff
scores yang terpisah, yaitu tidak mampu memusatkan perhatian, hiperativitas
dan impulsivitas;
2.
Daftar kelompok gejala tersebut
berasal dari prilaku anak, sedangkan butir-butir gejala tersebut dan cutoff
scores ditentukan oleh hasil penelitian di lapangan berdasarkan sensifitas,
spesifitas dan kekuatan pembeda untuk dapat membedakan antara gangguan ini
dengan gangguan psikiatrik lain dan kelompok normal;
3.
Penetapan gejala juga ditentukan
oleh ketidaksesuaian dengan usia mental dari anak tersebut;
4.
Didapatkannya gangguan afektif
bersama dengan gangguan ini tidak dijadikan pertimbangan criteria eksklusif;
5.
Tidak didapatkan subtype gangguan
pemusatan perhatian tanpa hiperaktivitas atau GPP-H, kelompok ini dikategorikan
sebagai undifferentiated ADHD, yaitu
kelompok yang gejalanya tidak jelas atau kabur.
Pada kurun waktu 1990-1998, DSM III-R berkembang menjadi DSM-IV. Menurut
kriteria diagnosis DSM IV gangguan ini dibagi menjadi tiga subtipe: subtipe
tidak mampu memusatkan perhatian, subtipe hiperaktivitas-impulsivitas dan
subtipe kombinasi.
Menurut DSM IV terdapat lima kriteria utama yang harus dipenuhi untuk
membuat diagnosis gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas, yaitu:
1.
Didapatkan adanya gejala utama
yaitu tidak mampu memusatkan perhatian dengan atau tanpa hiperaktivitas yang
impulsif, dengan frekuensi dan srajat keparahan yang tidak sesuai dengan
tingkat perkembangannya. Kedua ciri utama itu terpisah dan berdiri sendiri;
2.
Gejala tersebut menimbulkan hendaya sejak anak
belum berusia tujuh tahun;
3.
Hendaya yang ditimbulkan oleh
gangguan ini terjadi pada lebih dari dua situasi (di rumah, di sekolah atau di
tempat kerja);
4.
Hendaya tersebut menimbulkan
masalah atau mengakibatkan kegagalan dalam relasi sosial dengan anak lain,
penampilan akademik atau fungsi okupasional lainnya:
5.
Gejala yang didapatkan tidak
disebabkan oleh gangguan mental lain seperti gangguan pervasif, skizoferenia
atau gangguan psikotik lainnya, gangguan depresi, gangguan cemas, gangguan
disasosiatif dan gangguan kepribadian.
ADHD di
Indonesia
Untuk Indonesia jumlah anak ADHD masih belum
terdata secara lengkap, meski sebenarnya kelainan ini tampak cukup banyak
terjadi dan sering dijumpai pada anak usia pra sekolah dan usia sekolah.
Menurut Saputro, pada tahun 2005 di Indonesia,
populasi anak Sekolah Dasar adalah 16,3% dari total populasi yaitu 25,85 juta
anak mengalami ADHD. Berdasarkan data tersebut diperkirakan tambahan kasus baru
ADHD sebanyak 9000 kasus. Terdapat kecenderungan anak laki-laki lebih sering
mengidap ADHD dibandingkan dengan anak perempuan. Secara epidemiologis rasion
kejadian dengan perbandingan 4 : 1.
Perkembangan ADHD semakin banyak terutama di kota-kota besar. Salah
satunya adalah kota Jakarta. Menurut Saputro S, di tahun 2009 terjadi 26,1%
angka kejadian ADHD. Jumlah ini cukup besar, mengingat jumlah anak-anak yang
cukup tinggi di Jakarta.
Di klinik kami (Talenta) kami menangani berbagai macam anak ADHD dari
berbagai sekolah yang berafilisiasi dengan kami. Fenomena ini tentu menarik
dicermati, karena pada dekade 80 sampai dengan 90-an fenomena ADHD tidak
sebanyak seperti sekarang.
Banyak orangtua dan terapis yang tidak memahami ADHD dengan baik
sehingga perlakuan dan cara penanganannya pun terkadang disamakan dengan
penderita autisme. Padahal penanaganan yang salah akan berdampak tidak baik
pada anak ADHD.
Dr. Suzy Yusna Dewi, dr, SpKJ(K)
Dewi, SY : Startegi & Metode belajar untuk anak ADHD
Kamis, 23 April 2015
Solusi Bagi Anak ADHD
OPTIMALISASI PENCAPAIAN AKADEMIK ANAK ADHD
Meningkatkan memory & cara belajar anak ADHD dengan strategi khusus..,,
Tahap
belajar tersebut harus berdasarkan proses berfikir, mengingat &
membuat peta konsep, sehingga terbentuklah memory jangka panjang &
membuat recall memory menjadi lebih baik.
Tahapan tersebut
meliputi bagaimana meningkatkan atensi & konsentrasi, meningkatkan
kemampuan kognitif, meningkatkan analisa pemecahan masalah, meningkatkan
kreatifitas dalam berfikir, kemampuan berbahasa, berkomunikasi
sampai dengan mengelola emosi & perilaku.
sampai dengan mengelola emosi & perilaku.
Kamis, 09 April 2015
School Refusal......... Kedaruratan Jiwa Anak!!!!!!
School Refusal......... Kedaruratan Jiwa Anak!!!!!!
School Refusal (Menolak Sekolah) adalah anak tidak mau sekolah lagi atau pernah sekolah tapi tiba-tiba tanpa alasan yang jelas mogok bahkan tidak mau lagi melanjutkan sekolah. Pada dasarnya mereka tidak mau sekolah dikarenakan beberapa hal yang berhubungan dengan masalah psikiatri:
1. Separation anxiety/ Cemas Perpisahan, adalah ketakutan berpisah dengan orang yang dekat dengan dirinya (orang tua/ibu/pengasuh).
2. Generalized anxiety/cemas menyeluruh, adalah ketakutan terjadi sesuatu pada dirinya atau bayangan-bayangan yang menakutkan misalnya, takut terjadi kebakaran karena menonton Tv tentang kebakaran, atau sesuatu yang dibayangkan sangat menakutkan,yang terjadi hampir sepanjang hari.
3. Depresi, adalah perasaan sedih, putus asa, hilang minat untuk pergi sekolah atau motivasi untuk sekolah.
4. Bullying, adalah kekerasan psikis atau fisik yang dialami oleh sorang anak.
Menolak sekolah merupakan kedaruratan jiwa anak karena bergitu pentingnya sekolah bagi setiap anak. Ketika seorang anak tidak bersekolah tanpa alasan yang jelas (bukan karena ekonomi), kemungkinan besar akan menyebabkan kegagalan lain yang lebih berat.
Ketika seorang anak menolak sekolah maka yang perlu dilakukan adalah asesmen atau identifikasi penyebabnya dan segera lakukan terapi dan penanganan yang optimal.
Terapi Mindfullness adalah salah satu terapi yang dikembangkan ditalenta center dengan pendekatan kognitif dan perilaku yang merubah pola pikir, pengendalian emosi sehingga terjadi perubahan perilaku. Teknik mindfullness yang dikembangkan dibagi menjadi 8 tahapan/langkah menuju perubahan pola pikir dan perilaku.
Pilihlah sekolah yang menyenangkan bagi anak.!!!
Pilihlah sekolah yang menyenangkan bagi anak.!!!
TOPIK :
ADHD,
anak berkebututhan khusus,
Autisme,
Bullying,
cemas,
Depresi,
gangguan perilaku,
Islamic Green School.,
Karakter,
Media Coverage,
menolak sekolah,
Mindfulness,
school refusal
Langganan:
Postingan (Atom)















