Tampilkan postingan dengan label anak berkebututhan khusus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak berkebututhan khusus. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Desember 2018

Kamis, 03 Mei 2018

Jumat, 27 April 2018

ISLAMIC GREEN SCHOOL




INFORMATION SCHOOL :


TK-SD-SM-Tahfidz 📍Jl. Cipete Raya No. 113 Kec. Mustikasari Kel. Mustika Jaya Kota Bekasi 021-29081546 📞085100954085 Facebook : IGS Bina Talenta

Senin, 23 April 2018

ISLAMIC GREEN SCHOOL - Selamat UNBK SMP Anak- anakku InshaAllah sukses ya



INFORMATION SCHOOL :


TK-SD-SM-Tahfidz 📍Jl. Cipete Raya No. 113 Kec. Mustikasari Kel. Mustika Jaya Kota Bekasi 021-29081546 📞085100954085 Facebook : IGS Bina Talenta

Rabu, 11 April 2018

APA ITU DYSLEXIA (Kesulitan Membaca) ?



Menurut DSM-IV, disleksia didefinisikan sebagai pencapaian membaca di bawah tingkat yang diharapkan untuk usia, pendidikan, dan intelegensia anak; hendaya ini secara signifikan menganggu keberhasilan akademik atau aktivitas harian yang melibatkan membaca. Gangguan ini ditandai dengan gangguan kemampuan mengenali kata, membaca dengan lambat dan tidak akurat, serta pemahaman yang buruk. Di samping itu, anak dengan gangguan defisit atensi/hiperaktivitas (ADHD) memiliki risiko tinggi gangguan membaca.4

 Epidemiologi
 Suatu perkiraan sebesar 4% anak usia sekolah di Amerika Serikat memiliki gangguan membaca; studi prevalensi menemukan angka yang berkisar antara 2 dan 8%. Anak laki-laki tiga hingga empat kali lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan dilaporkan memiliki ketidakmampuan membaca pada sampel yang dirujuk secara klinis. Studi epidemiologis yang teliti menemukan angka yang hampir sama antara anak laki-laki dan perempuan yang memiliki gangguan membaca. Anak laki-laki dengan gangguan membaca mungkin lebih sering dirujuk untuk evaluasi dibandingkan anak perempuan karena masalah perilaku yang sering terkait.4
  
Komorbiditas
Anak dengan kesulitan membaca memiliki risiko yang lebih tinggi dari rata-rata untuk mengalami juga masalah perhatian, gangguan perilaku yang menganggu (contoh gangguan tingkah laku), dan gangguan depresif, terutama pada anak yang lebih tua serta remaja. Data mengesankan bahwa hingga 25% anak dengan gangguan membaca juga memiliki ADHD. Studi keluarga menunjukkan bahwa mungkin terdapat beberapa faktor genetik yang sama yang menyebabkan gangguan membaca dan sindrom yang terkait dengan perhatian. Anak dengan gangguan membaca memiliki angka depresi yang lebih tinggi dari rata-rata pada laporan diri sendiri dan mengalami tingkat gejala ansietas yang lebih tinggi dibandingkan anak tanpa gangguan belajar.4

Etiologi
Tidak ada satu etiologi tunggal pun yang diidentifikasikan sebagai penyebab kesulitan membaca; faktor genetik, faktor perkembangan, dan faktor lingkungan dapat turut berperan terhadap defisit inti gangguan membaca.4
Banyak studi menyokong hipotesis bahwa faktor genetik memainkan peran utama pada adanya gangguan membaca. Studi menunjukkan bahwa 35-40% kerabat derajat pertama anak dengan gangguan membaca juga memiliki derajat tertentu hendaya bahasa.4
Insiden gangguan membaca yang lebih tinggi dari rata-rata terdapat pada anak dengan intelegensi normal yang mengalami palsi serebral. Insiden gangguan membaca yang sedikit meningkat terdapat di antara anak-anak yang mengalami epilepsi. Komplikasi selama kehamilan: kesulitan prenatal dan perinatal termasuk prematuritas, dan berat lahir rendah lazim ada di dalam riwayat anak dengan gangguan membaca.4 

Gambaran Klinis
Anak yang mengalami gangguan membaca biasanya dapat diidentifikasi pada usia 7 tahun (kelas 2). Kesulitan membaca dapat tampak jelas pada anak di dalam kelas saat keterampilan membaca diharapkan diperoleh pada kelas 1. Masalah-masalah yang terkait mencakup kesulitan berbahasa, sering ditunjukkan dengan gangguan diskriminasi bunyi dan kesulitan merangkai kata-kata yang sesuai. Sebagian besar anak dengan gangguan membaca tidak menyukai dan menghindari membaca serta menulis.

Kesulitan untuk memaknai simbol, huruf, dan angka melalui persepsi visual dan auditoris. Hal ini akan berdampak pada kemampuan membaca pemahaman. Adapun bentuk-bentuk kesulitan membaca di antaranya berupa3:
-          Penambahan (Addition)
Menambahkan huruf pada suku kata
Contoh: suruh à disuruh; gula à gulka; buku à bukuku
-          Penghilangan (Omission)
Menghilangkan huruf pada suku kata
Contoh: kelapa à lapa; kompor à kopor; kelas à kela
-          Pembalikan kiri-kanan (Inversion)
Membalikkan bentuk huruf, kata, ataupun angka dengan arah terbalik kiri-kanan.
Contoh: buku à duku; palu à lupa; 3 à m
-          Pembalikan atas-bawah (ReversalI)
Membalikkan bentuk huruf, kata, ataupun angka dengan arah terbalik atas-bawah.
Contoh: m à w; u à n; nana à uaua; mama à wawa; 2 à 5; 6 à 9
-          Penggantian (Substitusi)
Mengganti huruf atau angka.
Contoh: mega à meja; nanas à mamas; 3 à 8

DAFTAR PUSTAKA

Hallhan, D.F. , : Kauffman, J.M. ; & Lloyd, J.W. , ( 1985 ) Introduction to Learning Disabilitis, New Jersey : Prentice-Hall Inc
Harwell, Joan M. 2000. Information & Materials for LD, New York: The Center of Applied Research in Education.
Kirk, S.A, & Gallagher, J.J. (1986). Educating Exceptional Children 5th ed. Boston: Houghton Mifflin Company.
Benjamin J. Sadock, Virginia A. Sadock. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Kaplan & Sadock. Edisi 2.
Muhammada, Jamila. 2007. Special education for special children. Alih Bahasa: Edy Sembodo. Jakarta : Hikmah
Yulinda E. S. Kesulitan Belajar. Magistra No.73 Th XXII September 2010

Rabu, 09 Agustus 2017

Pengenalan ADHD



ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah gangguan perilaku yang ditandai dengan gejala inatensi, inpulsif dan hiperaktifitas. ADHD pertama kali diteliti oleh Heinrich Hoffman pada tahun 1863. Hoffman mendeskripsikan gangguan prilaku sebagai berikut: “Sebagai anak yang selalu bergerak, tidak pernah berhenti walaupun telah ditegur oleh ayah dan ibunya; seolah-olah dia tidak mendengar nasehat orangtuanya. Anggota tubuhnya tidak pernah diam, berputar kesana kemari, naik-turun kursi dan meja, tidak ada hentinya dan tidak mempedulikan sekitarnya, sehingga orangtuanya tidak dapat menahan diri lagi melihat keadaan anaknya seperti itu.” Hoffman memberi julukan, Fidgety Phil (Phil yang tidak bisa diam).

Pada periode 1960-1970, Chess memberikan definisi hiperaktivitas: Anak yang hiperaktif adalah anak yang menunjukkan aktivitas berlebihan, lebih tinggi dari kecepatan normal pada anak umumnya atau anak yang selalu dalam keadaan bergerak atau keduanya.

Pada tahun 1968 secara resmi definisi hiperaktivitas dicantumkan dalam nomenklatur Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi II sebagai hyperkinetic reaction of childhood disorder.

Pengertian DSM II sejalan dengan pandangan Chess: “Gangguan ini memiliki karakteristik aktivitas berlebihan, tidak bisa diam, perhatiannya mudah beralih dan rentang


perhatian pendek, terutama didapatkan pada anak usia dini, perilaku tersebut berkurang pada saat usia remaja.”

Di kurun waktu 1970-1980 pada periode ini terdapat 2000 laporan ilmiah mengenai gangguan hiperaktivitas pada anak. Douglas menyimpulkan hiperaktivitas dijelaskan dengan empat defisit utama:

1.                  Pemusatan (investment), penataan (organization), pemeliharaan (maintanance), perhatian dan usaha (effort);

2.                  Hambatan (inhibitation) terhadap respons impulsif;

3.                  Pengaturan gairah (arousal) untuk memenuhi tuntutan situasi;

4.                  Dorongan kuat mencari kepuasan segera yang tidak biasa.

Hal ini yang mempengaruhi pada DSM III, nama gangguan tersebut diganti menjadi gangguan perhatian (Attention Deficit Disorder (ADD), American Psychiatric Association, 1980).

Di kurun waktu 1980-1990, tepatnya tahun 1987 pendefinisian ADD berubah menjadi Attention Deficit Hyperactivity (ADHD). DSM III pun disempurnakan menjadi DSM III-R dengan perbedaan diagnosis sebagai berikut:

1.                  Kelompok gejala dan cutoff scores yang tunggal diganti menjadi tiga kelompok gejala dan cutoff scores yang terpisah, yaitu tidak mampu memusatkan perhatian, hiperativitas dan impulsivitas;

2.                  Daftar kelompok gejala tersebut berasal dari prilaku anak, sedangkan butir-butir gejala tersebut dan cutoff scores ditentukan oleh hasil penelitian di lapangan berdasarkan sensifitas, spesifitas dan kekuatan pembeda untuk dapat membedakan antara gangguan ini dengan gangguan psikiatrik lain dan kelompok normal;

3.                  Penetapan gejala juga ditentukan oleh ketidaksesuaian dengan usia mental dari anak tersebut;

4.                  Didapatkannya gangguan afektif bersama dengan gangguan ini tidak dijadikan pertimbangan criteria eksklusif;

5.                  Tidak didapatkan subtype gangguan pemusatan perhatian tanpa hiperaktivitas atau GPP-H, kelompok ini dikategorikan sebagai undifferentiated ADHD, yaitu kelompok yang gejalanya tidak jelas atau kabur.


Pada kurun waktu 1990-1998, DSM III-R berkembang menjadi DSM-IV. Menurut kriteria diagnosis DSM IV gangguan ini dibagi menjadi tiga subtipe: subtipe tidak mampu memusatkan perhatian, subtipe hiperaktivitas-impulsivitas dan subtipe kombinasi.

Menurut DSM IV terdapat lima kriteria utama yang harus dipenuhi untuk membuat diagnosis gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas, yaitu:

1.                  Didapatkan adanya gejala utama yaitu tidak mampu memusatkan perhatian dengan atau tanpa hiperaktivitas yang impulsif, dengan frekuensi dan srajat keparahan yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya. Kedua ciri utama itu terpisah dan berdiri sendiri;

2.                  Gejala tersebut menimbulkan hendaya sejak anak belum berusia tujuh tahun;

3.                  Hendaya yang ditimbulkan oleh gangguan ini terjadi pada lebih dari dua situasi (di rumah, di sekolah atau di tempat kerja);

4.                  Hendaya tersebut menimbulkan masalah atau mengakibatkan kegagalan dalam relasi sosial dengan anak lain, penampilan akademik atau fungsi okupasional lainnya:

5.                  Gejala yang didapatkan tidak disebabkan oleh gangguan mental lain seperti gangguan pervasif, skizoferenia atau gangguan psikotik lainnya, gangguan depresi, gangguan cemas, gangguan disasosiatif dan gangguan kepribadian.


ADHD di Indonesia

Untuk Indonesia jumlah anak ADHD masih belum terdata secara lengkap, meski sebenarnya kelainan ini tampak cukup banyak terjadi dan sering dijumpai pada anak usia pra sekolah dan usia sekolah.

Menurut Saputro, pada tahun 2005 di Indonesia, populasi anak Sekolah Dasar adalah 16,3% dari total populasi yaitu 25,85 juta anak mengalami ADHD. Berdasarkan data tersebut diperkirakan tambahan kasus baru ADHD sebanyak 9000 kasus. Terdapat kecenderungan anak laki-laki lebih sering mengidap ADHD dibandingkan dengan anak perempuan. Secara epidemiologis rasion kejadian dengan perbandingan 4 : 1.

ADHD di Jakarta


Perkembangan ADHD semakin banyak terutama di kota-kota besar. Salah satunya adalah kota Jakarta. Menurut Saputro S, di tahun 2009 terjadi 26,1% angka kejadian ADHD. Jumlah ini cukup besar, mengingat jumlah anak-anak yang cukup tinggi di Jakarta.

Di klinik kami (Talenta) kami menangani berbagai macam anak ADHD dari berbagai sekolah yang berafilisiasi dengan kami. Fenomena ini tentu menarik dicermati, karena pada dekade 80 sampai dengan 90-an fenomena ADHD tidak sebanyak seperti sekarang.

Banyak orangtua dan terapis yang tidak memahami ADHD dengan baik sehingga perlakuan dan cara penanganannya pun terkadang disamakan dengan penderita autisme. Padahal penanaganan yang salah akan berdampak tidak baik pada anak ADHD.

Akan banyak masalah yang ditimbulkan ketika orangtua/terapis salah memperlakukan anak ADHD, salah satu yang paling fatal, anak menjadi hilang kontrol dan tantrum. Jadi bagaimana kita mengenali gejala ADHD pada anak? Mari kita bahas di bab selanjutnya.

Dr. Suzy Yusna Dewi, dr, SpKJ(K)



Dewi, SY : Startegi & Metode belajar untuk anak ADHD 

 

Kamis, 23 April 2015

Solusi Bagi Anak ADHD

OPTIMALISASI PENCAPAIAN AKADEMIK ANAK ADHD


Meningkatkan memory & cara belajar anak ADHD dengan strategi khusus..,,
Tahap belajar tersebut harus berdasarkan proses berfikir, mengingat & membuat peta konsep, sehingga terbentuklah memory jangka panjang & membuat recall memory menjadi lebih baik.
Tahapan tersebut meliputi bagaimana meningkatkan atensi & konsentrasi, meningkatkan kemampuan kognitif, meningkatkan analisa pemecahan masalah, meningkatkan kreatifitas dalam berfikir, kemampuan berbahasa, berkomunikasi
sampai dengan mengelola emosi & perilaku.
Talenta Center menyediakan terapis untuk melatih permasalahan pada anak ADHD tersebut, agar bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Model sesi pembelajaran untuk memperbaiki pola belajar & perilaku anak ADHD di Talenta Center





Kamis, 09 April 2015

School Refusal......... Kedaruratan Jiwa Anak!!!!!!


School Refusal......... Kedaruratan Jiwa Anak!!!!!!

School Refusal (Menolak Sekolah) adalah anak tidak mau sekolah lagi atau pernah sekolah tapi tiba-tiba tanpa alasan yang jelas mogok bahkan tidak mau lagi melanjutkan sekolah. Pada dasarnya mereka tidak mau sekolah dikarenakan beberapa hal yang berhubungan dengan masalah psikiatri:

1. Separation anxiety/ Cemas Perpisahan, adalah ketakutan berpisah dengan orang yang dekat dengan dirinya (orang tua/ibu/pengasuh). 

2. Generalized anxiety/cemas menyeluruh, adalah ketakutan terjadi sesuatu pada dirinya atau bayangan-bayangan yang menakutkan misalnya, takut terjadi kebakaran karena menonton Tv tentang kebakaran, atau sesuatu yang dibayangkan sangat menakutkan,yang terjadi hampir sepanjang hari.

3. Depresi, adalah perasaan sedih, putus asa, hilang minat untuk pergi sekolah atau motivasi untuk sekolah.

4. Bullying, adalah kekerasan psikis atau fisik yang dialami oleh sorang anak.

Menolak sekolah merupakan kedaruratan jiwa anak karena bergitu pentingnya sekolah bagi setiap anak. Ketika seorang anak tidak bersekolah tanpa alasan yang jelas (bukan karena ekonomi), kemungkinan besar akan menyebabkan kegagalan lain yang lebih berat.

Ketika seorang anak menolak sekolah maka yang perlu dilakukan adalah asesmen atau identifikasi penyebabnya dan segera lakukan terapi dan penanganan yang optimal.

Terapi Mindfullness adalah salah satu terapi yang dikembangkan ditalenta center dengan pendekatan kognitif dan perilaku yang merubah pola pikir, pengendalian emosi sehingga terjadi perubahan perilaku. Teknik mindfullness yang dikembangkan dibagi menjadi 8 tahapan/langkah menuju perubahan pola pikir dan perilaku.

Pilihlah sekolah yang menyenangkan bagi anak.!!!