Kamis, 07 November 2013

Jadi Seleb Facebook, Pelarian Remaja Krisis Identitas


Jakarta, Tak perlu minder kalau teman di Facebook tidak sampai 500 atau cuma di-follow segelintir orang di Twitter. Sebab ada beberapa orang yang sukses dalam pertemanan di dunia maya, tetapi kesepian dan tidak bahagia karena gagal bergaul di dunia nyata.
Psikiater anak dan remaja dari RSJ Soeharto Heerdjan Grogol, dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K) mengakui di zaman sekarang ini banyak remaja mengalami krisis identitas. Masalah dalam pergaulan membuatnya merasa tidak percaya diri dan seperti tidak diterima. Jejaring sosial seperti Facebook dan sejenisnya pun jadi pelarian. Ketika menjadi seleb Facebook atau Twitter, ada kebanggaan tersendiri.

"Semacam fobia sosial, nggak berani berhadapan dengan dunia nyata," kata dr Suzy saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (24/10/2012).

Saat bergaul di dunia maya melalui jejaring sosial, para remaja yang mengalami krisis identitas memang memungkinkan untuk menjadi orang lain. Foto profil bisa diedit sedemikian rupa agar tampak setampan atau secantik mungkin. Begitu juga keterangan-keterangan lain yang tidak perlu harus sesuai kenyataan.

Menurut dr Suzy sangat khas pada remaja dengan krisis identitas adalah sering update status. Terlalu sering update status, mengubah keterangan dan mengganti foto profil seolah ingin selalu muncul di timeline adalah perilaku yang perlu diwaspadai sebagai gejala kecanduan social media.

Kecanduan atau adiksi biasanya ditandai dengan kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan pergaulan untuk melakukan hal yang disukai. Demikian juga dengan kecanduan social media, meski tetap bersosialisasi lewat internet tetapi kalau tidak bergaul di dunia nyata maka hal itu tidak bisa dibilang sehat.

Faktor pola asuh menurut dr Suzy turut mempengaruhi kecenderungan ini. Kurangnya kesempatan bagi remaja untuk mengembangkan diri, tekanan dari orang tua yang terlalu sering mengarahkan bisa membuat anak-anak tumbuh menjadi remaja yang selalu cemas dan tidak percaya diri.

Solusinya tidak sulit asal belum berlebihan, yakni dengan mengurangi intensitas bergaul di dunia maya dan mulai meningkatkan sosialisasi di kehidupan nyata. Begitu pula pencegahannya, pola asuh orang tua harus lebih memberi ruang bagi anak untuk berkembang secara sehat jasmani, rohani dan sosial.

Sumber :


Jadi Seleb Facebook, Pelarian RemajaKrisis Identitas
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 24/10/2012 17:00 WIB



Beda Tipis Antara Nyentrik dan Gangguan Jiwa

Jakarta, Secara naluriah, tampil nyentrik di usia remaja adalah normal karena masih dalam masa pencarian jati diri. Hanya saja kalau berlebihan dan tidak pada tempatnya, tidak usah kaget kalau dikatakan dandanannya mirip seperti 'orang gila'.

Pemahaman yang simpang-siur tentang istilah 'gila' membuat para remaja berpenampilan eksentrik atau nyentrik jadi korban. Gila sering jadi istilah untuk menyebut penampilan atau perilaku tidak lazim, sementara pengidap gangguan jiwa skizofrenia juga disebut dengan istilah yang sama.

"Sebenarnya kalau eksentrik itu lebih ke skizotipal. Dekat dengan skizofrenia, tetapi ambangnya beda. Tidak semua jadi skizofrenia," kata dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K), psikiater anak dan remaja dari RSJ Soeharto Heerdjan saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (24/10/2012).

Menurut dr Suzy, sekedar tampil eksentrik dengan tato maupun gaya rambut yang aneh-aneh tidak perlu harus diartikan sebagai gangguan jiwa. Dalam masa pencarian jati diri, adalah hal yang wajar kalau para remaja suka bereksperimen termasuk soal penampilan.

Kecenderungan untuk menjadi skizofren atau 'gila' dalam pemahaman orang awam hanya muncul kalau memang remaja nyentrik tersebut punya faktor risiko. Misalnya semasa kecil sikapnya interovert atau tertutup, sering curiga atau paranoid dan mendapat pola pengasuhan yang salah dari orangtua.

Faktor genetik juga bisa ikut berperan, namun dr Suzy mengatakan pengaruhnya sangat kecil. Tidak ada data pasti, tetapi kalau diambil kasarnya maka kira-kira tidak akan lebih dari 10 persen dari semua faktor risiko yang ada termasuk pengaruh lingkungan dan pola asuh keluarga.

Mengenai anggapan bahwa ada banyak musisi dan seniman yang punya gangguan jiwa, dr Suzy tidak membantah meski juga tidak yakin bahwa hal itu ada hubungannya dengan penampilannya yang nyentrik. Hubungannya justru lebih dekat pada kreativitasnya yang tinggi.

"Gangguan bipolar itu kalau lagi sedih, sedih sekali dan kalau senang, senang sekali. Idenya banyak dan membutuhkan tidur yang lebih sedikit, makanya cenderung lebih kreatif," kata dr Suzy mengomentari gangguan bipolar yang kabarnya diderita juga oleh Kurt Cobain, vokalis Nirvana yang meninggal karena bunuh diri.

Sumber :
Beda Tipis Antara Nyentrik dan Gangguan Jiwa
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 24/10/2012 18:02 WIB






Tumbuh Kembang Anak


Tumbuh kembang anak sebenarnya mencakup dua hal yang berbeda yaitu perkembangan dan pertumbuhan. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah dan ukuran yang bisa diukur dengan ukuran berat dan ukuran panjang, sedangkan Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, antara lain emosi, intelegensi dan tingkah laku dan sosial, sebagai hasil interaksi faktor genetik atau  faktor bawaan  dengan faktor lingkungan. Kedua faktor tersebut akan memengaruhi tumbuh kembang anak. Faktor lingkungan adalah faktor yang meamengaruhi tumbuh kembang anak sejak anak dilahirkan. Untuk tumbuh dan berkembang anak tidak lepas dari dunia bermain, karena dengan bermain anak akan mendapat stimulus untuk mengembangkan potensi kecerdasan yang dimiliki anak. 

Fungsi bermain, Pertama, untuk perkembangan sensorik dan motorik. Perkembangan sensori motorik ini didukung oleh keterampilan motorik kasar dan halus seperti stimulus visual, pendengaran, taktil (sentuhan) dan kinestetik(gerak). Stimulus visual merupakan stimulasi awal yang penting pada tahap permulaan perkembangan anak. Anak akan meningkatkan perhatian pada lingkungan sekitar melalui penglihatan. Oleh karena itu orangtua disarankan memberikan mainan warna-warni pada usia 3 bulan pertama. Stimulasi pendengaran penting untuk perkembangan bahasa terutama pada tahun pertama kehidupan. Stimulus taktil diberikan dengan memberikan perhatian dan kasih sayang serta sentuhan yang menimbulkan rasa aman dan percaya diri pada anak sehingga lebih responsif. Stimulasi kinestetik akan membantu anak untuk mengenal lingkungan yang berbeda. Kedua, perkembangan intelektual, yaitu memberikan sumber yang beranekaragam untuk pembelajaran. Eksplorasi dan manipulasi bentuk, ukuran, tekstur, warna pengalaman dengan angka dan  konsep abstrak. Orangtua memperluas keterampilan berbahasa yang akan melatih meningkatkan daya ingat dalam upaya meningkatkan memori terhadap hal-hal yang didapat. Pada akhirnya anak memahami dunia dan dapat membedakan fantasi dan realita.Ketiga, perkembangan sosialisasi dan moral, sejak bayi telah menunjukkan ketertarikan dan kesenangan terhadap orang lain terutama ibu. Dengan bermain anak dapat mengembangkan dan memperluas sosialisasi dan mulai belajar untuk mengatasi persoalan yang timbul mengenai nilai moral dan etika. Pada tahun pertama anak hanya mengamati objek di sekitarnya. Pada usia 2-3 tahun, anak suka bermain peran seperti peran ayah, ibu, dokter, polisi dan lain-lain. Sedangkan pra-sekolah lebih banyak bermain dengan kelompok sebayanya.Keempat, kreativitas,  dengan kreativitas anak belajar berkreasi, bereksperimen dan mencoba ide-idenya.Kelima, kesadaran diri, dengan aktivitas bermain anak menyadari bahwa dirinya berbeda dengan orang lain dan memahami dirinya sendiri. Anak belajar memahami kelemahan dan kemampuan dibandingkan dengan anak lain. Keenam,  terapi, dengan  bermain akan membantu anak mengekspresikan emosi serta ketidakpuasan akan situasi sosial serta dapat mengurangi  tekanan dari lingkungan.

Manfaat lain dari bermain adalah  anak juga  akan mengembangkan kecerdasan  yang dimilikinya. Gardner mengelompokkan kecerdasan menjadi 8 kelompok yang dikenal dengan multipel  intelegensi atau kecerdasan majemuk antara lain; Kecerdasan bahasa, yaitu  kemampuan anak untuk menggunakan kata dan kalimat secara efektif, baik lisan maupun tulisan. Termasuk kemampuan memahami bacaan, menulis, bercerita ataau berbicara maupun mengingat kata. Kemungkinan profesi yang digeluti adalah penulis dan orator. Kecerdasan logika dan matematik, berpikir secara abstrak, logis dan kritis, memahami sebab-akibat, melakukan eksperimen dan hipotesa, melakukan hitungan secara efektif, mengelompokkan serta memberi penjelasan yang baik. Kemungkinan profesi yang digeluti adalah peneliti, programmer, ahli matematika, teknisi. Kecerdasan visual-spasial, memahami informasi dalam bentuk gambar dan ruang, membayangkan dan menuangkan informasi ke dalam bentuk gambar. Termasuk memahami warna, garis, bentuk, ruang, dan hubungan antar elemen. Kemungkinan profesi yang digeluti antara lain; arsitek, pelukis, perancang busana, pengrajin, desain grafis, navigator, pilot. Kecerdasan kinestetik, mengekspresikan ide dan perasaan melalui gerak tubuh. Kemungkinan profesi yang dapat dikembangkan anak adalah, dokter gigi, penari dan olahragawan. Kecerdasan musik, memahami dan sensitif terhadap musik, termasuk ritme, melodi, nada dan warna suara. Termasuk kemampuan berekspresi melalui musik dengan bernyanyi dan menciptakan lagu. Kemungkinan profesi yang dapat diarahkan antara lain, penyanyi dan pemain musik. Kecerdasan intrapersonal, kemampuan anak mengenali diri sendiri dan beradaptasi sesuai dengan pemahaman tentang dirinya, termasuk kemampuan memahami kelebihan dan kekurangan diri, mengenal perasaan, motivasi, temperamen, perilaku dan keinginan serta kapasitas untuk berdisiplin, melakukan refleksi dan mempunyai penghargaan diri. Profesi yang dapat diarahkan antar lain pemuka agama, psikolog. Kecerdasan interpersonal, kemampuan memahami perasaan, motivasi, temperamen dan perilaku orang lain, kemampuan untuk berempati, berkomunikasi secara efektif dan bekerjasama dengan orang lain. Kemungkinan profesi yang dapat digeluti antara lain, profesi; konselor, sales, marketing, politisi, pekerja sosial. Kecerdasan naturalis,  kecerdasan memahami berbagai tanaman dan hewan, termasuk sensitif terhadap fenomena alam seperti cuaca, pegunungan.kemungkinan  profesi yang dapat diarahkan antara lain, dokter hewan, ahli biologi, ahli biofisika.

Kiat Menjadi Orang Tua Hebat Dengan Metode Mindfulness

Pada Zaman yang serba instan seperti sekarang ini, banyak sekali kita menemukan anak-anak yang memiliki kecenderungan untuk nakal. Akses informasi membuat anak menjadi berubah.
Jangan heran bila kita menemukan ragam kenakalan anak. 
Lantas bagaimana cara menghadapi kenakalan anak?

Lewat buku ini, saya akan membahas bagaimana menjadi orangtua hebat dengan metode Mindfulness.
DAPATKAN BUKUNYA DI GRAMEDIA TERDEKAT / Hub. Talenta Center 021-88856183