Jumat, 05 Mei 2017

Internet Addiction Test (IAT)


oleh Dr. Suzy Yusna Dewi, dr. SpKJ(K)

            Internet Addiction Test (IAT) adalah suatu ukuran yg dapat dipercaya dan bersifat valid untuk mengukur tingkat kecanduan terhadap internet.


Untuk memulai, jawablah pertanyaan berikut dengan menggunakan skala dibawah ini :

0
Tidak pernah
1
Jarang
2
Kadang
3
Sesekali
4
Sering
5
Selalu



Pertanyaan
Skala
1
Seberapa sering Anda tetap online lebih lama dari yang anda inginkan?
1
2
3
4
5
0
2
Seberapa sering Anda mengabaikan tugas rumah tangga untuk online lebih lama?
1
2
3
4
5
0
3
Seberapa sering Anda lebih tertarik menggunakan internet untuk keintiman dengan pasangan Anda?
1
2
3
4
5
0
4
Seberapa sering Anda membentuk hubungan baru dengan pengguna online lain?
1
2
3
4
5
0
5
Seberapa sering orang lain mengeluh kepada Anda mengenai waktu yang Anda gunakan untuk online?
1
2
3
4
5
0
6
Seberapa sering sekolah atau pekerjaan Anda terganggu karena jumlah waktu yang anda habiskan untuk online?
1
2
3
4
5
0
7
Seberapa sering Anda mengecek email anda terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan?
1
2
3
4
5
0
8
Seberapa sering performa atau produktivitas kerja Anda terganggu karena internet?
1
2
3
4
5
0
9
Seberapa sering Anda bersikap tertutup ketika ada orang yang bertanya tentang kegiatan anda saat online?
1
2
3
4
5
0
10
Seberapa sering Anda menggunakan internet untuk menghalangi pikiran yang menganggu hidup anda atau untuk menenangkan pikiran anda?
1
2
3
4
5
0
11
Seberapa sering anda mengantisipasi diri anda saat akan online?
1
2
3
4
5
0
12
Seberapa sering anda merasakan ketakutan bahwa apabila hidup tanpa internet terasa kosong, membosankan, dan tanpa sukacita?
1
2
3
4
5
0
13
Seberapa sering anda marah, berteriak, atau bertindak kesal apabila ada yang menganggu anda saat sedang online?
1
2
3
4
5
0
14
Seberapa sering anda tidur lebih larut karena log in saat malam hari?
1
2
3
4
5
0
15
Seberapa sering anda merasa hidup lebih asik saat online ketimbang offline?
1
2
3
4
5
0
16
Seberapa sering diri anda mengatakam “sebentar lagi atau beberapa menit lagii” saat online?


1
2
3
4
5
0
17
Seberapa sering anda mencoba untuk mengurangi jumlah waktu yang anda
1
2
3
4
5
0




Gunakan untuk online namun gagal?






18
Seberapa sering anda menyembunyikan berapa lama waktu anda online?
1
2
3
4
5
0
19
Seberapa sering anda memilih menghabiskan waktu untuk online ketimbang berinteraksi dengan orang lain?
1
2
3
4
5
0
20
Seberapa sering anda merasakan rasa tertekan, murung, gugup saat sedang offline namun menghilang ketika anda online kembali?
1
2
3
4
5
0

 untuk mengisi kunjungi link dibawah ini 

Senin, 10 Oktober 2016

Memaknai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10 Oktober 2016

Dignity in Mental Health Psychological and Mental Health First Aid for all 

 (Martabat bagi kesehatan jiwa dan pertolongan pertama psikologis dan kesehatan jiwa bagi semua)

Memaknai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10 Oktober 2016..

Kesehatan jiwa menurut UU no 18 thn 2014, adalah Kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu berkontribusi untuk kepentingan banyak orang. Sejalan dengan makna dari Kesehatan menurut UU No 36 Tahun 2009 yaitu keadaan sehat, fisik, mental, spiritual, sosial agar tercapai kualitas hidup produktif.

WHO memperkirakan tahun 2020 depresi akan menjadi penyebab utama dari ketidakmampuan seorang individu di seluruh dunia dan gangguan jiwa akan menyumbang sekitar 15% dari angka kesakitan global. Oleh karenanya mengantisipasi kemungkinan diatas, tema hari kesehatan jiwa sedunia kali dimaknai sebagai martabat dalam kesehatan jiwa diselaraskan dengan tujuan Pembangunan manusia khususnya manusia di Indonesia suutuhnya.

Memaknai peringatan Hari Kesehatan Jiwa dalam konteks ini tidak dapat dipungkiri bahwa sudah adanya kondisi prihatin. Apakah kesehatan jiwa bangsa ini sedang dalam keadaan sakit? Sakit secara mental ,sosial dan spiritual. Ditandai dengan maraknya angka kejahatan, kejadian kekerasan pada anak, kemiskinan makin meluas, banyaknya koruptor berseliweran dinegri ini dengan nyaman tanpa ada rasa berdosa.

Rasa ketidaknyaman dan kepedihan yang dirasakan banyak orang. Seringnya kegaduhan –kegaduhan serta kepanikan yang membangkitkan ketidaknyamanan, yang seringkali menimbulkan luapan emosi walaupun hanya dipicu oleh sebagian kecil masyarakat. Orang yang merasa berkuasa, menampilkan arogansi yang menimbulkan kesakitan dan kepedihan serta luka banyak orang dinegri ini.

Apakah mayoritas negri ini menjadi korban dari ulah segelintir manusia yang tidak sehat jiwa?
Apakah revolusi mental hanya sekedar basa basi tanpa tahu makna harfiah ?


Mengacu pada definisi sehat jiwa bahwa orang sehat jiwa adalah orang yang mencintai diri, mencintai orang lain, mampu menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan diri sendiri dan orang lain, masyarakat dan lingkungan. 

Sudah sehat jiwakah pemimpin dan masyarakat bangsa ini?

Jika tidak sehat jiwa, apa penyebabnya ? 

Jiwa yang sehat didapat jika terpenuhinya kepuasan sejak kecil, yang akan membentuk cikal bakal akar yang kokoh, akan berkembang terus hingga dewasa. akar kokoh akan menjadi sebuah pohon yang baik, yang enak dilihat dan bermanfaat untuk orang banyak.

Jiwa yang sakit akan berdampak pada perilaku ketika dewasa yang berkaitan erat dengan cara berpikir, cara berperan, cara berkata serta cara bertindak. Jiwa yang yang sakit tampak dalam setiap perkataan, perbuatan atau tindakan. Jiwa yang penuh dengan permusuhan, senang melihat orang lain susah, seringkali menularkan ketidaknyamanan dan ketidak bahagiaan kepada orang lain. Secara tidak disadarinya tidak suka dengan keadaan tenang dan damai.

Akar yang sempurna, berdampak pada tumbuhnya pohon yang tidak enak dipandang ataupun dapat dirasakan manisnya buah yang dihasilkan. Akar yang tidak kokoh ini diartikan sebagai penyebab kegelisahan dan ketidakpuasan ketika masa dewasa atau tuanya.

Kegaduhan dan kepanikan yang ditimpakan kepada orang lain dimungkinkan secara uncounscies adalah sebagai ajang mencapai pemuasaan kebutuhan yang tidak terpenuhi ketika kecil dan akhirnya menjadi kenikmatan untuk mencapai kepuasan.

Oleh karena itu dengan tema hari kesehatan jiwa 2016 ini, kita tumbuhkan masyarakat sehat jiwa dari mulai dari kecil bahkan mulai dalam kandungan sehingga akan terbentuknya pemimpin - pemimpin bangsa Indonesia yang tangguh , menyenangkan, menyejukkan, dan berempati kepada sesama.
Semoga dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini kita dapat tumbuhkan Indonesia yang bermatabat, Indonesia beradab dan Indonesia Sehat Jiwa.
Salam sehat jiwa.

Minggu, 26 Juni 2016

Yuuk.. ikut gabung...

Menambah pengetahuan bagi Dokter, Psikolog, Terapis, Guru & Orang tua...
Selamat mengikuti Workshop yang bermanfaat...




Rabu, 09 Maret 2016

Agama dan Ilmu


Postingan seorang teman mengingatkan akan arti dari ILMU dan bagaimana lahirnya sebuah ilmu.
Sudah sunnatulahnya sejak dahulu kala seorang pemuka agama juga seorang ilmuan...
Sebagai bukti Agama dan ilmu tidak bisa dipisahkan. Ketika agama tidak dijadikan tolak ukur, maka berdampak pada perubahan seluruh alam.
Kenapa agama tidak dijadikan tolak ukur?
Dimungkinkan adanya pergeseran nilai religi dalam individu - individu yang membentuk kelompok- kelompok yang pada akhirnya membentuk suatu kebijakan.
Apa dampaknya?
Kebijakan dari kelompok yang sudah jauh dari nilai spiritual/ religi/ agama tsb pada akhirnya di AMINKAN oleh SEMUA orang sebagai sesuatu kebenaran yang ABSOLUT.
Wallahua'lam bishowab